Judulnya Belakangan :)

“Ayo buka baju kalian!”,
Perintah Ibu kepada aku dan Romi. Dengan tergesa-gesa kami bergegas melepas pakaian kami di dalam mobil yang dikemudikan Ayah dengan sangat hati-hati di tengah belantara itu. Ini sudah menjelang maghrib, dan belum ada tanda-tanda bahwa kami akan berhenti atau sampai di suatu tujuan atau dimana pun. Aku juga sama sekali tidak paham dengan situasi yang sedikit mencekam ini. Aku berharap aku segera berada di kamar Dimas, menenangkan diri tepat di bahu nya sambil menikmati alunan musik-musik opera.

“Heh! Pakai sarungnya dong! Kenapa malah telanjang begini sih?!”,
Bentakan Ibu membuyarkan lamunan ku. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya mobil berhenti di bawah pohon beringin besar. Kami turun dengan kondisi memakai sarung, tak terkecuali Ayah dan Ibu.

Aku yang kebingungan tidak berani menanyakan apa-apa. Kami turun dari mobil dan berjalan ke arah pemandian yang berada sedikit di depan pohon beringin tempat kami berhenti. Tepat di sebelah kiri sungai, ada air mancur dan 7 buah kendi berisi air dan bunga-bunga an.

“Ayo duduk!”
Satu persatu kami disirami perasan jeruk purut dari dahi ke ubun-ubun.
“Padao parmaraan sian hami, Oppung!”
(“Jauhkan marabahaya dari kami”), kira-kira inilah yang disampaikan Ibu.
Setelah ritual itu, kami disuruh menyiram sekujur tubuh kami dengan air yang berada dalam kendi. Rasanya segar, dan aroma nya sangat wangi. Aku masih diam, dan hanya mengikuti perintah Ibu.

***

Perkenalkan, aku Maya Septa Ningrum. Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang dikenal dermawan. Ayah ku Taufik Setyo Ningrum dan Ibu ku Tina Simamora. Aku memiliki dua orang adik, yaitu Luna dan Romi. Ayah ku merupakan CEO dari Java Group, perusahaan terbesar kedua di Pulau Jawa, dan Ibu ku adalah seorang designer brand terkenal di Jawa. Di sekolah, tidak ada guru yang tidak mengenal orangtua ku. Makanya setiap urusan yang berhubungan dengan sekolah, selalu dimudahkan. Aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA, Luna dan Romi duduk di kelas 10. Luna pernah berhenti sekolah setahun karena sakit dan harus dirawat di luar negeri.

Dulu, kami adalah keluarga yang sangat harmonis. Setiap sekali tiga bulan, Ayah dan Ibu akan mengambil cuti dan mengajak kami liburan ke luar negeri. Ayah juga tidak jarang mau mengantar kami ke sekolah. Sarapan bersama, ke gereja bersama, minuh teh di sore hari sambil mendengarkan kisah Ayah dan Ibu waktu muda. Setidaknya begitulah kondisi keluarga ku ssebelum setahun terakhir ini.
Ayah menjadi seorang yang sangat sibuk dan jarang sekali pulang. Ibu menjadi sangat kaku dan tidak pernah makan bersama kami. Aku dan kedua adikku benar-benar mersakan perubahan itu. Tidak ada yang namanya liburan keluarga lagi, dan merasa seperti orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

***

Di perjalanan pulang, Romi mulai buka suara.
“Kenapa Luna nggak ikut?”
“Tadi dia tidur, takut mengganggu”, sambar Ibu.
Jawaban itu tidak membuat ku puas. Padahal tadi Romi juga sedang tidur, dan Ibu membanguni dia dengan paksa.
“Nanti, jangan cerita yang aneh-aneh ke Luna”, pinta Ayah.
“Padahal aku mau bawa Luna ke tempat itu kapan-kapan, dia pasti suka”, kata Romi.
“Nggak boleh! Pokoknya jangan bilang apa-apa sama Luna!” bentak Ibu.
Suasana menjadi hening sampai mobil kami berhenti di depan rumah besar bercat putih. Aku langsung menuju ke kamar. Betapa terkejutnya aku, tiba-tiba saja Luna yang sedang duduk di kasur menoleh dan tersenyum aneh kepada ku. Maksud ku, dia tidak pernah begitu, dan senyuman nya benar-benar aneh. Aku membalas senyumannya dan bergegas mengganti pakaian ku.
“Tubuh mu wangi”
Tiba-tiba Luna berdiri di samping ku sambil menciumi tubuh ku. Aku bersikap biasa saja dan melanjutkan aktivitas ku.
“Tadinya aku mau ngajak kamu mandi bareng, tapi ternyata kamu sudah mandi”
Hah! Aku terkejut karena Luna bisa tahu aku sudah mandi. Aku masih diam dan terus melanjutkan aktivitas ku.
“May, kamu ingat nggak? Kita dulu sering mandi bareng loh. Kita itu kayak sepasang kembar, bajunya sama, model rambut nya sama, sampai..”
“Maya! Dimas udah dateng!”
Romi berteriak dari ruang tengah.
“Lun, aku pergi dulu ya!”
Aku langsung bergegas turun ke ruang tengah meninggakan Luna yang belum selesai bicara.
“Hey! Yuk berangkat! Rom, kami berangkat dulu ya!”, aku pamit ke Romi.
“Iya”.
Balas Romi singkat.
“Ayah sama Ibu mana?”, tanya ku.
“Udah pergi tadi”, jawab Romi sambi berjalan meninggalkan kami.
Kami berangkat ke sebuah bar milik keluarga Dimas untuk merayakan ulang tahun Beni, teman kami. Aku dan Dimas baru 3 bulan berpacaran tapi rasanya aku sudah sangat nyaman dengan dia. Dia juga tidak pernah memperlakukan ku semena-mena. Dia duduk di bangku kelas 12 dan sebentar lagi lulus. Dia sangat baik dan pantas diandalkan. Aku merasa sedikit bangga berpacaran dengan Dimas karena dia termasuk laki-laki populer di sekolah kami.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Aku dan Dimas berjalan di keramaian menuju meja yang sudah dipesan. Disana ada Beni dan Rani, pacarnya, serta teman-teman mereka yang lain yang tidak terlalu aku kenal. Semua mata tertuju padaku, mungkin karena dress ku yang lumayan terbuka. Tapi aku tetap berjalan dengan percaya diri.
“Selamat ya bro!”
Dimas memeluk Beni sahabat nya.
“Happy birthday ya Ben!”
Aku juga menyelamati Beni, dan tidak lupa aku berkenalan dengan teman-teman yang lain. Di meja ini, aku adalah satu-satu nya junior dan ini benar-benar membuat ku sedikit tidak percaya diri. Beni, Dimas dan yang lain menari ke tengah-tengah kecuali Rani. Dia memilih untuk tetap duduk dan minum bir. Aku sama sekali tidak menyapa dia atau apa pun. Aku hanya diam sampai Rani tiba-tiba menyeletuk.
“Udah lama sama Dimas?”
“Masih tiga bulan”, jawab ku sambil senyum.
“Gak usah lama-lama”, kata Rani membuat ku jengkel.
“Maksudnya gimana?”, tanya ku penasaran.
“Nanti juga tau sendiri”, jawab Rani menyengir.
“Eh, aku kesana dulu ya!”, kata Rani berlalu meninggalkan aku.

***

Sepanjang jalan, aku terus memikirkan perkataan Rani. Apa tujuan dia mengatakan hal seperti itu. Apa dia cemburu dengan kami berdua? Apa telah terjadi sesuatu. Aku tidak mendapat jawaban.
“Kamu nginap dimana?”, tanya Dimas membangunkan lamunan ku.
“Aku mau ke rumah aja Di”, jawab ku pelan.
“Kamu sakit ya?”, tanya Dimas khawatir.
“Enggak. Aku cuman pengen pulang aja”.
“Ya udah, aku antar kamu pulang. Btw, kamu cantik malam ini”.
Dimas memang tidak henti-henti nya membuat ku tersipu dengan kata-kata nya yang manis. Ah bodo amat dengan perkataan Rani. Aku dan Dimas sama-sama saling menyayangi kok, jadi tidak apa-apa. Setelah memberi ku kecupan di kening, Dimas pamit pulang.

Langkah ku tiba-tiba kaku ketika memasuki ruang tengah. Suasana rumah begitu mencekam dan aura tidak enak dimana-mana. Teriakan Luna sangat keras dari dalam kamar. Sementara Ayah, Ibu, dan Romi duduk gelisah di ruang tengah. Tanpa bertanya apa-apa, aku duduk di samping Ibu. Sepertinya aku harus bekerja keras lagi besok, kedengarannya Luna memporak-porandakan kamar lagi. Di rumah, tidak ada pembantu, jadi untuk urusan bersih-bersih kamar, kami melakukannya masing-masing. Sebulan yang lalu kami memiliki pembantu di rumah, tapi kemudian minggat karena tingkah Luna.
Masih ingat kan, aku pernah bilang kalau Luna sakit? Ini lah yang ku maksud. Luna mengalami gangguan mental belakangan ini. Dia kadang-kadang teriak, tertawa dan menangis. Tapi ini sudah mendingan dibandingkan setahun lalu. Dulu kami sangat kewalahan menghadapi Luna sampai dia harus dirawat di luar negeri dan ditangani oleh Psikiater yang cukup ahli. Kalau sedang kumat begini, kami akan menunggunya sampai dia kelelahan dan diam.
Pukul 02.00 WIB, akhirnya Luna diam, dan kami semua menuju kamar masing-masing. Aku mendapati Luna sudah tidur lelap di kasur. Setelah berganti pakaian dan membersihkan make up ku, aku pun bergegas tidur.
“Maya bobo.. O Maya bobo.. Kalau tidak bobo digigit Luna..”
“Maya bobo.. O Maya bobo.. Kalau tidak bobo digigit Luna..”
“Maya bobo.. O Maya bobo.. Kalau tidak bobo digigit Luna..”
Aku terbangun setelah beberapa kali ku dengar senandung itu. Ketika aku membuka mata ku, Luna sudah duduk di samping ku sambil membelai rambut ku.
“Lun! Kamu belum tidur?”, tanya ku tersentak.
“Kamu kenapa nggak bobo, May? Nanti aku gigit loh”
Luna kembali dengan mimik dan senyum nya yang sangat aneh itu. Aku merasa ngeri dengan perkataan Luna yang seolah-olah serius. Aku pun kembali menutup mata ku perlahan. Sebelum akhirnya terlelap, aku melihat bayangan Luna yang samar mengarahkan pisau kepada ku.
”Aaaaaaaaaaaa!!!”
Aku berteriak kesetanan sampai sepertinya suara ku mengalahkan teriakan Luna yang biasa. Aku menggapai tangan Luna dan memberontak. Aku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku kalah sampai akhirnya aku menyerah.

***

“Maya! Maya! Bangun..”
Aku membuka mata ku dan melihat Luna yang sudah berseragam rapi di samping ku. Nyawa ku belum terkumpul sepenuhnya. Ternyata itu semua hanya mimpi.
“Ayo bangun”
Ajak Luna kepada ku yang masih setengah sadar. Semuanya begitu aneh. Semua yang terjadi benar-benar sangat nyata. Aku merasakan tangan Luna. Dia benar-benar hampir membunuh ku. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, aku bergegas bangun dan mandi.
“Gimana keadaan kamu, Lun?”
Tanya Ayah kepada Luna di tengah-tengah sarapan.
“I’m OK”
Jawab Luna senyum riang. Aku kebingungan lagi. Kemarin senyum dia tidak seperti itu.
“Hari ini ujian kan? Udah belajar kan May?”
Tanya Ibu memecah kebingungan ku.
“Ah iya..”
Jawab ku singkat. Rasanya sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Sudah lama kami tidak berkumpul seperti ini.
Kami bertiga diberangkatkan ke sekolah. Ayah tidak bisa mengantar kami karena ada meeting di kantor. Sepanjang perjalanan, Luna tersenyum riang seperti tidak ada beban, dan aku masih tenggelam dalam kebingungan. Setibanya di sekolah, kami bertiga berpisah di koridor dan menuju kelas masing-masing.

Seperti biasa setelah ujian tengah semester, nilai-nilai akan ditempel di mading sekolah. Sehingga jelek atau pun bagus nya nilai setiap siswa bisa dilihat dengan jelas oleh semua seisi sekolah. Aku menempati posisi pertama lagi dan di kelas 12, Dimas menempati posisi yang sama. Kami seperti pasangan yang sempurna di sekolah. Sama-sama populer dan selalu meraih prestasi di sekolah. Mading lebih ramai dari pasar di masa-masa ujian seperti ini. Tak jarang juga ada pemandangan yang tak diduga-duga, semisal menangis tanpa rasa malu, dan berteriak keras.
“Ke kantin yuk!”
Ajak Dimas kepada ku.
Di perjalanan menuju ke kantin, seorang perempuan yang berparas cantik menghampiri Dimas. Kemudian sambil memberi kode, Dimas dan perempuan itu berjalan meninggalkan ku. Mood ku tiba-tiba berubah. Aku kembali ke kelas dan tidur.
“Woi! Bangun!”
Dian mengejutkan ku tiba-tiba.
“Kamu pasti belum makan siang kan? Nih! Kita makan bekal aku sama-sama”
Ajak Dian sambil mengeluarkan bekal nya.
Dian adalah teman ku semenjak duduk di bangku SD, kami sangat akrab, bisa dibilang kami ini sahabat karib. Sampai-sampai sewaktu SMP, kami dijuluki lesbi karena sering kemana-mana bersama.
“May, temenin aku ke mall dong cari kado buat Bram”, pinta Dian.
“Oh, boleh boleh”, jawab ku mengiyakan Dian.

***

Rumah memang tempat yang paling nyaman. Setelah seharian menemani Dian, akhirnya aku bisa kembali ke kasur ku yang nyaman. Mandi nya nanti saja, aku masih lelah.
Tidak terasa, aku ketiduran sampai pukul 7 malam. Aku merasa sangat gerah dan benar-benar ingin mandi. Aku terkejut ketika aku masuk ke kamar mandi, Luna menangis terisak-isak di dalam bathup.
“Lun..”, aku menghampiri Luna.
Tiba-tiba sorot matanya mengarah kepada ku sambil menyeringai. Aku terkejut setengah mati.
“Kamu kenapa nggak bobo? Aku kan udah bilang, kalau kamu nggak bobo, nanti aku gigit”, Luna menggertak ku ngeri sampai membuat bulu kuduk ku berdiri.
Tiba-tiba Luna beranjak dari bathup dan berdiri tepat di depan ku. Wajah ku dengan wajah Luna berhadapan sangat rapat. Jantung ku tidak menentu, aku takut setengah mati. Tiba-tiba darah merah segar mengalir dari kepala Luna dan...



6 komentar: