Budi dan Martin adalah dua orang siswa SMA Tirta Jaya yang sangat terkenal di semua kalangan SMA sederajat. Mereka disebut preman karena kelakuan mereka. Memalak, membuli, berjudi, berkelahi dan berbuat usil terhadap siswa lain yang lebih lemah dari mereka. Seperti biasa, setiap pagi Budi dan Martin sudah siap siap menunggu Jono, mangsa wajib mereka di depan gerbang sekolah.
“Oiii
anak DPR! Apa kabar? Aku lihat perutmu makin buncit. Enak sekali jadi anak DPR
ya, makan enak terus. Aku! Jangankan makan enak, makan nasi tiga kali sehari
aja gak terpenuhi”
“Hey jawab! Sudah gak bisa
bicara kau hah?” sambar Martin
“Kalau
kalian mau uangku, ini ambil saja” sambil memberi selembar uang seratus ribu
kepada Martin.
“Nah
gitu dong! Kau sudah paham tugasmu rupanya. Mulai hari ini ku angkat kau jadi
bendaharaku yang spesial oke. Banggalah kau Jono hahahaha Martin, ayo ke
kantin”
Setelah berhasil memalak Jono,
Budi dan Martin pergi ke kantin. Sembari makan, mereka mengobrol.
“Banyak sekali duit si anak
DPR itu ya Tin. Tiap hari kita dapat seratus ribu dari dia”
“Iya.. Apa kita naikkan aja
tarifnya Bud?”
“Hahahah sudah bangkrut
rupanya usaha kelontong bapakmu, Tin?”
Mereka berdua tertawa lepas.
Tiba tiba bel berbunyi, pertanda masuk kelas. Mereka berdua buru buru menghabiskan
makanan dan berlari menuju kelas.
“Teman
teman, satu hari ini kita belajar sendiri. Guru guru kita sedang rapat untuk
persiapan ujian semester”. Tegas Bunga,
ketua kelas.
“Ah
aku kira tadi belajar, sampai sesenggukan aku makan, lupa minum pula”, protes
Martin.
“Udahlah Tin, ayoklah ke
belakang kita. Aku malas di kelas”, ajak Budi.
Mereka berdua pun cabut dari
kelas. Tidak ada yang berani melarang kedua sejoli itu kecuali guru. Walaupun
tingkah mereka seperti preman, tapi mereka masih takut kepada guru. Budi dan
Martin bermain game di belakang gudang sekolah dan menghabiskan beberapa batang
rokok. Tak cukup sampai disitu, sepulang dari sekolah, Budi dan Martin pergi ke
sebuah diskotik untuk mabuk mabukan. Mereka menari, tertawa dan gila gilaan.
***
Budi tiba di rumah dalam keadaan mabuk berat. Dia
berjalan sempoyongan.
“Kau
mabuk lagi nak?” Ibu Budi bergegas mengangkat badan Budi yang lebh besar
darinya.
“Lepaskan
aku mak! Mabuk? Mabuk? Hahahaha aku ini habis bersenang senang. Mamak gak bisa
lihat aku senang?”
“Sampai kapan kau begini
nak?”, tangis Ibu Budi pecah.
“Udahlah
mak! Drama terus, sedikit sedikit menangis. Gak bisa mamak lihat aku bahagia
sebentar”
“Mari nak, basuh dulu mukamu.
Habis itu kita berdoa”
“Berdoa?
Seumur hidup mamak berdoa, hidup kita gini gini aja mak. Suamimu yang brengsek
itu pergi dengan perempuan lain dan punya anak. Berdoa lagi mamak bilang? Gak
usah munafik mamak! Mamak pun pasti capek berdoa terus gak ada hasil”
(Plak!) sebuah tamparan keras
mendarat di wajah Budi.
“Hahahahah sial!” Budi
mendorong ibunya lalu pergi ke kamar.
***
Keesokan paginya, Budi
berangkat ke sekolah dengan Martin. Seperti biasa mereka menghadang Jono, si
anak DPR. Jono, Siti dan Bunga berjalan melewati Budi dan Martin.
“Main lewat lewat aja sekarang
ya”, Martin menghadang Jono dan teman temannya.
“Apa apaan kalian? Awas kami
mau lewat”, Bunga menyambar
“Aduh ketua kelas kita, Bud.
Takut aku! Ampun ketua kelasssss”
“Hahahaha
awas awas biar aku bicara. Mau jadi sok pahlawan kau ha? Urus urusanmu sendiri.
Sana jilat saja guru guru itu biar kau dapat nilai bagus”
“Heh
jaga bicaramu ya Budi. Makin hari makin menjadi kelakuanmu”, bentak Siti yang
merupakan sahabat baik Bunga.
Kemudian Budi menarik Jono ke
tengah lapangan, lalu menyiram air bekas pel kamar mandi ke seluruh badan Jono.
“Mentang
mentang kau dibela, jadi sok jagoan kau ya! Kau tidak ingat bagaimana pertama
kali kau datang ke sekolah ini? Apa perlu kau ku ingatkan Jono?”, Tanya Budi
“Ampun Budi, lepaskanlah aku.
Ini ambil saja uangku di sakuku.”
“Hah!
Lima puluh ribu? Sudah tidak waras kau ya! Tarif itu kalau semakin lama semakin
naik, kenapa malah kau kurangi? Macam mana ini Bud? Apa perlu kita kasih
pelajaran lagi dia?”
“Sudahlah Budi, Martin. Ini,
ambil saja uang kami. Sebagai gantinya lepaskanlah Jono”, kata Bunga sembari memberikan selembar uang
seratus ribu.
“Nah
begitu dong. Seandainya dari awal kalian begini kan, anak DPR ini tidak akan
begini. Ayo Martin, kita ke kantin. Aku sudah lapar menghadapi orang orang ini”
Budi dan Martin meninggalkan
ketiga siswa tersebut.
***
Malam minggu tiba, malam yang
selalu ditunggu tunggu oleh Budi dan Martin karena mereka bisa mabuk mabukan
sepuasnya tanpa khawatir esok hari akan sekolah. Martin mengenakan setelan
kesukaannya.
“Kau
masih berkawan dengan si Budi itu?”, tanya ayah Martin yang merupakan pegusaha kelontong terkaya di desanya.
“Iya pak”, jawab Martin ragu
ragu.
“Bapak
kan sudah bilang jangan lagi kau bergaul dengan dia. Apa yang kau harapkan dari
dia? Bapak membesarkanmu tapi kau malah membesarkan dia”
“Kami sudah lama berkawan pak,
bapak juga tau itu”
“Harusnya
kalau kau berkaca, kau bisa ingat bagaimana dulu si Budi meghantam jidatmu
sampai berbekas begitu”
“Aku pergi dulu pak, temanku
sudah menunggu”.
Martin mengendarai kuda
besinya dengan gagah. Sepanjang jalan, Martin tak henti hentinya memikirkan
perkataan ayahnya. Martin mulai dipenuhi keraguan. Tanpa sadar, Martin sudah
tiba diskotik. Martin menyisihkan pikirannya dan mulai menikmati malam. Tiba tiba
saja Martin terkejut dengan pemandangan tak wajar di hadapannya.
“Apa
apaan kau bangsat?” Martin menghajar Budi habis habisan setelah melihat Budi
dan Meri, mantan Martin bermesraan.
“Aku
tau kau ini bajingan! Tapi aku tidak tau kau sebajingan ini!” Martin
mengeluarkan amarahnya dan terus terusan memukuli Budi.
“Aku bisa jelaskan Tin! Ini tidak
seperti yang kau lihat. kau kenal aku kan?”
“Bangsat!”
emosi Martin semakin menjadi. Dia lalu meninggalkan Budi yang sudah terkapar.
***
Dengan wajah babak belur, Budi
mengetuk pintu rumah.
“Astaga Budi! Kau kenapa nak?”
tangis ibu setelah melihat kondisi Budi.
“Awas! Aku mau tidur” Budi
mendorong ibunya.
“Sini, obati dulu lukamu”
“Awas
ku bilang! Kau terlalu sibuk belajar bahasa di alkitab sampai kau tidak bisa
lagi mengerti bahasaku!”
“Ayo nak, mari bersihkan dulu
lukamu. Sebelum tidur, kita berdoa”
“Aaaarrrgghhh!
Berdoa berdoa berdoa! Muak aku mak! Aku sudah bilang berkali kali, doa itu
tidak berguna! Tuhan sudah meninggalkan kita! Awas, ku bilang awas!”
Ibu Budi pasrah dan hanya bisa
meratapi kelakuan anak satu satunya itu. Malam itu Ibu budi mengucapkan
Syahadat agar anaknya diberi petunjuk oleh Tuhan.
***
Suara berisik membangunkan ibu
Budi dari tidurnya.
“Dimana? Dimana?”, Budi
berteriak sembari mengacak acak lemari di kamar ibunya.
“Ada apa nak?”
“Dimana benda itu? Peninggalan
suamimu satu satunya, aku mau jual!”
“Mengapa kau mau menjualnya
Budi?”
“Dimana ku tanya! Aku butuh
cincin itu sekarang!”
“Tidak!
Hanya itu satu satunya harta yang kita miliki untuk membayar sewa rumah ini
tahun depan”, Ibu Budi menyembunyikan alkitab di belakangnya.
“Ooh, disitu rupanya..
Hahahaha”
Budi merampas alkitab itu dan
mengambil cincin yang terselip di dalamnya.
“Budi! Jangan Budi! Mamak
minta tolong padamu, nak. Jangan lakukan itu”
Tanpa memperdulikan ibunya, Budi pergi begitu
saja.
***
“Sudah ada uangnya?”
Budi menemui pemilik usaha rental motor yang
menjadi langganan Budi yang ternyata adalah mafia.
“Cincin ini harganya mahal,
sepertinya ini cukup menutupi utangku”
“Sombong
sekali kau! Kau tidak hitung utangmu seberapa banyak? Belum lagi bunganya. Kau main
main denganku ha?!”
“Maksudnya gimana bang?”
“Cincin
ini saja tidak cukup. Dasar bodoh! Hajar dia!”, sekelompok mafia itu menghajar
Budi habis habisan tanpa ampun.
Budi dengan kondisi yang
sangat buruk duduk berbaring di bukit tempat dia dan Martin biasa berkeluh kesah.
Dering telepon menyadarkan Budi dari lamunannya.
“Budi!
Kau dimana?”, Martin, sahabat Budi menelpon setelah beberapa hari tak ada
kabar.
“Aku sudah bilang aku bisa
jelaskan semuanya”
“Itu
tidak penting sekarang. Mamak meninggal kena serangan jantung. Kau dimana? Aku jemput
sekarang”
Budi dan Martin tiba di rumah
Budi yang sudah ramai dengan tetangga. Halaman depan rumah Budi sudah dihiasi
bendera merah. Budi terdiam menyaksikan ibunya yang sudah tidak bernyawa di
hadapannya. Kemudian dia terjatuh lemas dan tiba tiba tangisnya pecah.
“Makkk kenapa kau tinggalkan
aku mak?”
Budi menangis dengan hebatnya.
Air matanya tak berhenti mengalir. Dia merasa tak kuasa ditinggalkan oleh
ibunya.
“Sudah
Budi, mamak sudah tenang disana”. Martin memeluk sahabatnya itu berusaha
menenangkan.
***
Hari demi hari terlewati. Kehidupan
Budi berubah drastis. Budi menjadi seorang pendiam. Dia tak pernah lagi berbuat
usil terhadap siswa lain dan berhenti berbuat nakal. Justru Budilah yang sering
dibuli oleh siswa sekelasnya.
“Kau sudah makan?”, Jono
menghampiri meja Budi.
“Ayo kita ke kantin, kita
makan sama”, ajak Jono
“Kenapa kau baik padaku? Aku sudah
jahat padamu”
“Kita ke kantin dulu, kau
pasti lapar”
“Kau
pasti mau membalasku juga Jono sama seperti yang lain. Kau boleh balas aku
sekarang, aku tidak akan membalas”
“Aku
mau mengajakmu bimbingan belajar dengan yang lain, Martin juga ikut. Kau mau
kuliah kan?”
“Aku sudah tidak punya apa apa
Jono”
“Ada
beasiswa. Kau bisa pakai nilai nilaimu Budi. Aku tidak ada maksud membalas
semua perbuatanmu. Aku hanya ingin membantumu. Ayo lah kita ke kantin. Aku tidak
bisa bicara dengan baik kalau dalam keadaan lapar”
Budi menunduk. Mereka berdua
berjalan menuju kantin. Terlihat dari kejauhan Martin, Siti dan Bunga duduk
bersama.
“Budi! Sini”, Bunga melambaikan
tangan.
“Ah
sahabat macam apa kau ini? Aku sudah mati matian mengajakmu tapi kau tolak. Tapi
kau malah mau diajak Jono”, Martin mengomel.
“Hei
Budi. Aku mau makan banyak. Kau yang bayar ya. Anggap saja aku menagih uangku
yang pernah kau ambil”, kata Siti bercanda (Semua orang tertawa).
***
Budi, Martin, Jono, Bunga dan
Siti kini menjadi sahabat baik. Setelah lulus SMA, akhirnya mereka semua diterima
di kampus tujuan mereka masing masing. Entah bagaimana, Budi dan Martin memang
sudah ditakdirkan selalu bersama. Mereka berdua mendapat beasiswa di kampus dan
jurusan yang sama. Setiap akhir pekan, lima sekawan itu selalu menyempatkan
diri untuk bertemu. Camping, karaoke, diskusi atau hanya sekedar ngopi di kafe.
Selesai.
wah alurnya menarik
BalasHapus