Siang ini aku membaca banyak sekali pesan singkat dari teman teman. Jiwaku
menggebu gebu, rasanya aku ingin meninggalkan tempat kerjaku segera dan lari ke
jalanan. Tidak lain tidak bukan, mereka mengajakku untuk ikut demo besar di
kantor DPR Bali. Aku memang sudah sibuk bekerja, tetapi jiwa pemberontakku
sewaktu mejadi mahasiswa masih berapi api. Akhirnya jam menunjukkan pukul 4
sore, aku segera bergegas.
“Ri, kalau kamu udah di lokasi kabarin ya, biar aku
jemput”,
Isi pesan singkat Dewa, teman yang hampir setiap hari berkomunikasi
denganku. Kami berkenalan setahun yang lalu di acara jumpa pers sekota Bali, dia
adalah perwakilan dari pers mahasiswa kampus Unud. Sejak saat itu, kami mulai
sering ketemu untuk diskusi, terkadang sekedar ngopi. Hubungan kami menjadi
semakin erat dari waku ke waktu.
“Yuri..”
Seseorang berparas tegap melambaikan
tangan kepadaku dari seberang trotoar. Bukan hanya samar, aku memang tidak bisa
mengenalinya dengan mudah, terlebih orang tersebut memakai masker. Orang
tersebut berlari menghampiriku. Dewa. Ternyata orang tersebut adalah Dewa,
sahabatku. Dewa yang selama ini biasa biasa saja di mataku tiba tiba menjelma
menjadi seorang pria dewasa yang keren. Kaos hitam, sepatu converse, dan kemeja
flannel yang terikat di pinggangnya benar benar terlihat sempurna dia kenakan.
Dia menyalamku dengan girang seolah kami sudah lama tidak bertemu. Dia
menuntunku ke podium. Aku mulai menyampaikan orasi yang sudah kurangkai di
sepanjang jalan tadi.
“Tolak Reklamasi Bali”,
Isi spanduk spanduk besar di
sekelilingku. Kegigihan orang orang di sekitarku membangkitkan jiwaku,
semangatku terbakar. Belum juga aku mengakhiri orasiku, tiba tiba mataku terasa
perih. Gas air mata beterbangan dimana mana. Aku panik. Aku segera berlari
meninggalkan podium. Beberapa kali badanku terbentur, terdorong kesana kemari.
Aku benar benar hilang arah, semuanya menjadi abu abu dan aku kebingungan.
Seseorang muncul dari balik asap, wajahnya berlumuran darah. Bisa kutebak bahwa
dia pasti dipukuli aparat dengan keji. Aku membopong pria malang itu jauh ke
dalam gang kecil.
“Mba, makasih ya”
Rintihnya sembari kusandarkan badannya ke
dinding.
“Ah biasa aja mas, kalau udah begini gak mungkin saya gak nolongin”
Jawabku sembari membersihkan darah di wajahnya.
”Makasih mba udah menyuarakan
suara hati rakyat sini, padahal mba bukan orang Bali kan?”, Sebentar aku terdiam
dan merasa sangat bangga.
“Mba Yuri, saya Dava, saya presma Politeknik”
Katanya
membangunkan lamunanku “Eh? Mas tau nama saya dari mana?”
Tanyaku heran.
“Maaf
mba, saya sembarangan baca tanda pengenal mba. Mba wartawan ya? Gak heran mba
jago banget orasinya. Saya sampai heran loh masih ada perempuan yang berani
bicara di depan publik gitu”
“Iya mas, gak papa. Makasih mas. Saya bisa karena
teman teman juga”
Jawabku ringan.
Dari tadi aku berkali kali memeriksa henponku
tetapi belum ada kabar apa apa. Aku tidak tahu teman temanku dimana dan aku
tidak tahu jalur untuk pulang karena jalur utama telah ditutup. Aku menghubungi
Dewa tetapi nomornya tidak aktif. Apakah dia baik baik saja, apakah dia
ditangkap. Aku khawatir.
“Teman teman saya ditangkap mba, dipukuli lebih parah
dari saya. Kalau gak ada mba, mungkin nasib saya udah kayak teman teman saya”,
Jelas Dava.
Pikiranku langsung buyar, bagaimana nasib teman temanku. Apa mereka
baik baik saja aku tidak tahu.
“Mas, saya tau dimana PMI, saya antar mas kesana
ya. Saya harus cari teman saya.”
Ku bopong dia di bahuku.
Beruntungnya aku
selalu punya kebiasaan saat demo, aku selalu observasi dulu lokasi PMI.
Aku
berlalu meninggalkan Dava bersama rekan rekan PMI, aku berlari tanpa arah yang
jelas. Sebagian jalan masih tertutup asap tebal, dan petasan tak hentinya
dilayangkan ke arah demonstran. Beberapa kali aku terjatuh. Hatiku teriris
menyaksikan betapa berantakannya jalanan ini. Raut para mahasiswa yang berlari
kepanikan benar benar menyayat hatiku. Tiba tiba aku merasa pusing, pandanganku
buram.
“Ri.. Bangun Ri..”
Mataku terbuka perlahan.
“Dewa, kamu gak papa?”
Tanyaku khawatir. Dewa langsung memelukku erat.
“Ri, aku kira kamu kenapa napa.
Aku nyariin kamu dari tadi. Aku khawatir banget.”
Dewa mengusap usap pundakku
dan mengelus rambutku berkali kali.
Beberapa hari setelahnya, Dewa menyampaikan
perasaanya terhadapku. Katanya dia menyukaiku sejak pertama kali bertemu di
jumpa pers tahun lalu. Kami akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Aku masih
tidak menyangka sahabat priaku satu satunya akan menjadi pacarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar