Ketika menangis ialah satu2 nya cara mengekspresikan semua yang di hati dan pikiran. Jika dipaksa bicara pun, mulut kan tetap terbungkam.
"Menangislah...karena dalam tangisan itu ada kekuatan yang dahsyat, ya kekuatan yang membuat kita bisa menahan juga melepaskan beratnya beban yang tertanggung. 😢"
Adalah masa2 sulit yang terjadi bagai terulang seperti masa lalu.
"Tak ku tahu sesulit apa itu yang sulit. Yang ku tahu hanya, ketika teramat sulitnya kehadirannya itu yang hampir2 membuat mu seakanakan tak sanggup, menangislah. Menangislah sekuatkuatnya tuk mengusirnya pergi jauh walaupun masih terasa sulit, lakukan saja. 😢"
Deja Vu menjadi nyata??
"Ya ia memang nyata... senyatanya peristiwa yang sedang terjadi ini."
Sialnya, kali ini lebih berat. Jika dulu ia hanya 10 ton, maka kali ini dua kali lipat.
"Besyukurlah. Itu karena kau kuat. Memang orang-orang kuat akan menerima beban yang semakin berat. Begitulah adanya.
Nikmati saja."
Mari, sejenak tenangkan pikiran, kutau sulit tapi percayalah semua kan membaik. Berkurang setidaknya.
"Percaya bahwa yang terjadi itu bukan terjadi dengan tiba-tiba seperti atraksi sulap bimsalabim.
Begitulah dengan keadaan saat ini. Maka, biarkan sejenak ia memainkan perannya, karena pikiran inipun harus diisi dengan energi yang baru untuk hari esok."
Rembulan nyatanya bukan teman yang baik untuk berbagi cerita. Ia tidak memberi jawaban. Kau harap dia akan cerita pada mereka yang hidup??
"Tidak. Memang tidak akan dia memberi jawab pada mu, karena dia pun sudah menanggung beban yang terlalu berat. Namun, lihatlah bahwa ia tetap meenjalani perannya sebagai penguasa malam. Tataplah dia bersinar. Biarkan sinarnya masuk kedalam jiwamu. Mungkin itu sedikit membantu."
Telinga mereka tiba2 terkena gangguan jika itu dia lakukan. Yang benar saja berharap jawaban dari ras anti sosial. Menutup mata jika ada kesilapan sedikit saja. Biar kiranya dia sendiri menanggung beban.Tenang, kau tidak perlu mengangkat bebannya, mendengarnya berceloteh bebas sudah cukup meringankan pikirannya yang dangkal itu. Ketika matanya sudah lagi tak se elok dulu.
"Biarkanlah, biarkan saja. Ia tidak akan menghiraukan mu. Lalu, apa yang kau harapkan?
Percayalah pada dirimu."
Malangnya nasibmu, kau butuh insto?? 🙁
"Jalanan memang banyak debu, kau kasihlah insto mu itu sedikit saja Listra Situmeang. 😂😂😂"
NB: Special thanks to Abanganda Abin MN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar